1.1.
LATAR BELAKANG.
Dalam
rangka mendukung pemantapan ketahanan pangan nasional, maka Pemerintah
Indonesia telah melaksanakan serangkaian usaha secara terus menerus yang
bertitik tolak pada sector pertanian, yang berupa pembangunan di bidang
pengairan guna menunjang peningkatan produksi pangan.
Namun
demikian, sejak beberapa dekade yang lalu, secara global telah terjadi
perubahan ekologis dan juga lingkungan strategis yang sangat mempengaruhi
Pelaksanaan Pengelolaan Irigasi, Bahkan akhir-akhir ini dunia juga telah
mengalami tiga krisis pangan (food),
Energi (energy) dan air (water) serta perubahan klimat global
yang akan mempengaruhi pelaksanaan pengelolaan system irigasi.
Terjadinya
3 (tiga) krisis tersebut masih ditambah dengan keadaan system irigasi yang
kurang baik karena beberapa hal diantaranya adalah :
1) Jaringan
Irigasi yang telah habis umur teknisnya.
2) Penurunan
fungsi dan kondisi kinerja system irigasi.
3) Kurangnya
pelayanan pengelolaan irigasi.
4) Kebutuhan akan pengelolaan irigasi yang efektif dan
efisien.
Untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut, pengelolaan system irigasi tidak
cukup lagi dilakukan dengan rehabilitasi biasa karena faktor lingkungan telah
berubah. Diperlukan suatu tindakan kebaruan untuk melaksanakan pengelolaan
irigasi baik kaitannya dengan manajerial, institusional maupun teknis. Tindakan
kebaruan pengelolaan irigasi tersebut sering disebut dengan upaya Modernisasi
Irigasi.
Adapun
maksud modernisasi irigasi di Indonesia adalah mewujudkan system pengelolaan
irigasi partisipatif yang berorientasi pada pemenuhan tingkat layanan irigasi
secara efektif, efisien dan berkelanjutan dalam rangka mendukung ketahanan
pangan dan air melalui 5 pilar, yaitu :
1) Peningkatan
keandalan penyediaan air.
2) Perbaikan sarana dan prasarana irigasi.
3) Penyempurnaan
system pengelolaan irigasi.
4) Penguatan
institusi pengelola irigasi, dan
5) Pemberdayaan
sumber daya manusia pengelola irigasi.
Dalam rangka pelaksanaan modernisasi irigasi perlu
dilakukan serangkaian kegiatan terlebih dahulu antara lain penyaringan kegiatan
modernisasi dengan menggunakan Index Kinerja Modernisasi Irigasi (IKMI) dengan
metode penjajagan cepat (Rapid Appraisal
Procedure) meliputi :
§ Ketersediaan,
kebutuhan neraca air.
§ Kinerja prasarana irigasi yang menyangkut kondisi
dan fungsi system irigasi.
§ Kinerja pengelolaan irigasi dan tingkat layanan
irigasi (baik saat ini maupun yang diharapkan).
§ Kinerja institusi pengelola irigasi, dan system
pembiayaan serta peraturan perundangan yang mendukung.
§ Kualitas, kuantitas dan status kompetensi sumber
daya manusia pengelola irigasi.
Selanjutnya berdasarkan hasil tersebut, dilakukan
studi yang lebih mendalam berkaitan dengan kelima pilar tersebut dan
langkah-langkah/rencana penyempurnaan dalam rangka pelaksanaan modernisasi
irigasi.
Untuk tahap awal implementasi konsep modernisasi
irigasi dipilih Daerah
Irigasi Wadaslintang di Jawa Tengah yang
berada dibawah kewenangan Pengelolaan Pusat. Perwakilan Pusat dalam hal ini
adalah Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak.
Daerah Irigasi (DI) Wadaslintang memiliki luas
layanan sebesar 31.133 ha yang merupakan DI. kewenangan Pemerintah Pusat.
DI. Wadaslintang merupakan Daerah Irigasi Lintas Kabupaten, yang meliputi Kabupaten
Kebumen dan Kabupaten Purworejo. Air dari Waduk Wadaslintang dibagikan ke
Saluran Induk Wadaslintang Barat, Saluran Induk Wadaslintang Timur dan Saluran
Induk Bedegolan melalui Bendung Pejengkolan.
Air dari Bendung Pejengkolan digunakan untuk
mensuplesi dari Waduk Wadaslintang yang disajikan pada Tabel berikut ini :
Tabel 1-1 : Daerah Yang diari Bendung Pejengkolan
|
No.
|
Nama
Bendungan
|
Nama
Sungai
|
Luas
Areal
(Ha)
|
|
1.
|
Bendung Bedegolan
|
Sungai Badegolan
|
8.401
|
|
2.
|
Bendung Kaligending
|
Sungai Luk Ulo
|
2.801
|
|
3.
|
Bendung Kuwarasan
|
Sungai Jaya
|
404
|
|
4.
|
Bendung Manden
|
Sungai Lesung
|
860
|
|
5.
|
Bendung Rebug
|
Sungai Bedono/Rebug
|
1.063
|
|
6.
|
Bendung Pesucen
|
Sungai Kedungbener
|
1.657
|
|
7.
|
Bendung Pekatingan
|
Sungai Butuh
|
1.209
|
|
8.
|
Bendung Kalimeneng
|
Sungai Kalimeneng
|
847
|
|
9.
|
Bendung Kedunggupit Wetan
|
Sungai Kedunggupit
|
1.126
|
|
10.
|
Bendung Kedunggupit Kulon
|
Sungai Kedunggupit
|
993
|
|
11.
|
Bendung Bandung
|
Sungai Jali
|
4.133
|
|
12.
|
Bendung Siwatu
|
Sungai Jali
|
|
|
13.
|
Bendung Kedungsamak
|
SungaiLuk Ulo
|
6.760
|
|
14.
|
Petak
Tersier pada Sal. Induk
|
Sungai
|
879
|
|
Yang Total Luas Layanan
|
31.133
|
||
Berdasarkan
penjajagan awal yang telah dilakukan untuk menilai kesiapan DI. Wadaslintang untuk meningkatkan system
pengelolaan irigasi secara modern dengan menggunakan indeks kesiapan dilakukan
oleh Direktorat Irigasi dan Rawa bersama Tim Modernisasi Irigasi yang didapat
hasil IKMI sebagai berikut :
Tabel 1-2 : Hasil IKMI tahun
2013 di DI Wadaslintang
|
No.
|
Indikator
|
Bobot Upaya
|
Tingkat
|
Predikat
|
IKMI
|
|
1.
|
Ketersediaan air
|
20
|
80
|
Memadai
|
16,0
|
|
2.
|
Prasarana Irigasi
|
25
|
90
|
Memadai
|
22,5
|
|
3.
|
Sistem Pengelolaan
|
20
|
84
|
Memadai
|
16,8
|
|
4.
|
Institusi Pengelola
|
20
|
82
|
Memadai
|
16,5
|
|
5.
|
SDM
|
15
|
39
|
Kurang
|
5,90
|
|
Nilai IKMI
|
77,6
|
||||
Dari
tabel tersebut terlihat bahwa kesiapan secara fisik cukup memadai, demikian
pula untuk ketersediaan air, namun demikian masih diperlukan penyempurnaan
dalam system pengelolaan, kelembagaan dan terutama SDM. Penjelasan rinci hasil
IKMI dapat dilihat pada laporan hasil survey IKMI DI. Wadaslintang yang
dilakukan Tim UGM.
Dalam
rangka persiapan Menuju Modernisasi perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang
meliputi : system planning, detail design,
pelaksanaan modernisasi.
Adapun
pelaksanaan kegiatan system planning jaringan Irigasi DI. Wadaslintang mengacu
pada kerangka acuan kerja dengan prinsip-prinsip modernisasi irigasi di
Indonesia dan kriteria-kriteria perencanaan yang berlaku di lingkungan
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.
1.2.
MAKSUD DAN TUJUAN.
Maksud kegiatan
system planning adalah untuk melaksanakan survey, investigasi dan studi/kajian
yang diperlukan dalam rangka perencanaan detail system irigasi guna mendukung
pelaksanaan modernisasi irigasi.
Tujuan
pekerjaan ini untuk memperoleh gambaran kondisi kinerja system irigasi
dan masukan dari masyarakat tentang manfaat dan penyempurnaan system yang
ditinjau dari aspek ketersediaan air, prasarana irigasi, pengelolaan irigasi,
kelembagaan pengelola irigasi (baik dijaringan utama maupun tersier), kondisi sumber
daya manusia pengelolanya dan tingkat layanan yang diharapkan oleh petani,
serta rekomendasi yang perlu dilakukan dalam rangka pembuatan detail desain
nantinya, serta kelengkapan-kelengkapan lainnya guna mendukung modernisasi
irigasi.
1.3.
LOKASI KEGIATAN.
Lokasi kegiatan terletak di DI. Wadaslintang yang
berlokasi di Kab. Purworejo dan Kab. Kebumen
Provinsi Jawa Tengah khususnya pada Sub Sistem Bendung Bedegolan (8.401 Ha).
No comments:
Post a Comment