Wednesday, October 21, 2015

OVERVIEW (PENDAHULUAN)

1.1.  LATAR BELAKANG.
Dalam rangka mendukung pemantapan ketahanan pangan nasional, maka Pemerintah Indonesia telah melaksanakan serangkaian usaha secara terus menerus yang bertitik tolak pada sector pertanian, yang berupa pembangunan di bidang pengairan guna menunjang peningkatan produksi pangan.
Namun demikian, sejak beberapa dekade yang lalu, secara global telah terjadi perubahan ekologis dan juga lingkungan strategis yang sangat mempengaruhi Pelaksanaan Pengelolaan Irigasi, Bahkan akhir-akhir ini dunia juga telah mengalami tiga krisis pangan (food), Energi (energy) dan air (water) serta perubahan klimat global yang akan mempengaruhi pelaksanaan pengelolaan system irigasi.
Terjadinya 3 (tiga) krisis tersebut masih ditambah dengan keadaan system irigasi yang kurang baik karena beberapa hal diantaranya adalah :
1)   Jaringan Irigasi yang telah habis umur teknisnya.
2)   Penurunan fungsi dan kondisi kinerja system irigasi.
3)   Kurangnya pelayanan pengelolaan irigasi.
4)   Kebutuhan akan pengelolaan irigasi yang efektif dan efisien.

Untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut, pengelolaan system irigasi tidak cukup lagi dilakukan dengan rehabilitasi biasa karena faktor lingkungan telah berubah. Diperlukan suatu tindakan kebaruan untuk melaksanakan pengelolaan irigasi baik kaitannya dengan manajerial, institusional maupun teknis. Tindakan kebaruan pengelolaan irigasi tersebut sering disebut dengan upaya Modernisasi Irigasi.
Adapun maksud modernisasi irigasi di Indonesia adalah mewujudkan system pengelolaan irigasi partisipatif yang berorientasi pada pemenuhan tingkat layanan irigasi secara efektif, efisien dan berkelanjutan dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan air melalui 5 pilar, yaitu :
1)   Peningkatan keandalan penyediaan air.
2)   Perbaikan sarana dan prasarana irigasi.
3)   Penyempurnaan system pengelolaan irigasi.
4)   Penguatan institusi pengelola irigasi, dan
5)   Pemberdayaan sumber daya manusia pengelola irigasi.

Dalam rangka pelaksanaan modernisasi irigasi perlu dilakukan serangkaian kegiatan terlebih dahulu antara lain penyaringan kegiatan modernisasi dengan menggunakan Index Kinerja Modernisasi Irigasi (IKMI) dengan metode penjajagan cepat (Rapid Appraisal Procedure) meliputi :
§  Ketersediaan, kebutuhan neraca air.
§  Kinerja prasarana irigasi yang menyangkut kondisi dan fungsi system irigasi.
§  Kinerja pengelolaan irigasi dan tingkat layanan irigasi (baik saat ini maupun yang diharapkan).
§  Kinerja institusi pengelola irigasi, dan system pembiayaan serta peraturan perundangan yang mendukung.
§  Kualitas, kuantitas dan status kompetensi sumber daya manusia pengelola irigasi.

Selanjutnya berdasarkan hasil tersebut, dilakukan studi yang lebih mendalam berkaitan dengan kelima pilar tersebut dan langkah-langkah/rencana penyempurnaan dalam rangka pelaksanaan modernisasi irigasi.
Untuk tahap awal implementasi konsep modernisasi irigasi dipilih                    Daerah Irigasi  Wadaslintang di Jawa Tengah yang berada dibawah kewenangan Pengelolaan Pusat. Perwakilan Pusat dalam hal ini adalah Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak.

Daerah Irigasi (DI) Wadaslintang memiliki luas layanan sebesar 31.133 ha yang merupakan DI. kewenangan Pemerintah Pusat.
DI. Wadaslintang merupakan Daerah Irigasi  Lintas Kabupaten, yang meliputi Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo. Air dari Waduk Wadaslintang dibagikan ke Saluran Induk Wadaslintang Barat, Saluran Induk Wadaslintang Timur dan Saluran Induk Bedegolan melalui Bendung Pejengkolan.
Air dari Bendung Pejengkolan digunakan untuk mensuplesi dari Waduk Wadaslintang yang disajikan pada Tabel berikut ini :
Tabel 1-1 : Daerah Yang diari Bendung Pejengkolan
No.
Nama Bendungan
Nama Sungai
Luas Areal
(Ha)
1.
Bendung Bedegolan
Sungai Badegolan
8.401
2.
Bendung Kaligending
Sungai Luk Ulo
2.801
3.
Bendung Kuwarasan
Sungai Jaya
404
4.
Bendung Manden
Sungai Lesung
860
5.
Bendung Rebug
Sungai Bedono/Rebug
1.063
6.
Bendung Pesucen
Sungai Kedungbener
1.657
7.
Bendung Pekatingan
Sungai Butuh
1.209
8.
Bendung Kalimeneng
Sungai Kalimeneng
847
9.
Bendung Kedunggupit Wetan
Sungai Kedunggupit
1.126
10.
Bendung Kedunggupit Kulon
Sungai Kedunggupit
993
11.
Bendung Bandung
Sungai Jali
4.133
12.
Bendung Siwatu
Sungai Jali
13.
Bendung Kedungsamak
SungaiLuk Ulo
6.760
14.
Petak Tersier pada Sal. Induk
Sungai
879
Yang Total Luas Layanan
31.133

Berdasarkan penjajagan awal yang telah dilakukan untuk menilai kesiapan    DI. Wadaslintang untuk meningkatkan system pengelolaan irigasi secara modern dengan menggunakan indeks kesiapan dilakukan oleh Direktorat Irigasi dan Rawa bersama Tim Modernisasi Irigasi yang didapat hasil IKMI sebagai berikut :

Tabel 1-2 : Hasil IKMI tahun 2013 di DI Wadaslintang
No.
Indikator
Bobot Upaya
Tingkat
Predikat
IKMI
1.
Ketersediaan air
20
80
Memadai
16,0
2.
Prasarana Irigasi
25
90
Memadai
22,5
3.
Sistem Pengelolaan
20
84
Memadai
16,8
4.
Institusi Pengelola
20
82
Memadai
16,5
5.
SDM
15
39
Kurang
5,90
Nilai IKMI
77,6

Dari tabel tersebut terlihat bahwa kesiapan secara fisik cukup memadai, demikian pula untuk ketersediaan air, namun demikian masih diperlukan penyempurnaan dalam system pengelolaan, kelembagaan dan terutama SDM. Penjelasan rinci hasil IKMI dapat dilihat pada laporan hasil survey IKMI DI. Wadaslintang yang dilakukan Tim UGM.
Dalam rangka persiapan Menuju Modernisasi perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang meliputi : system planning, detail design, pelaksanaan modernisasi.
Adapun pelaksanaan kegiatan system planning jaringan Irigasi DI. Wadaslintang mengacu pada kerangka acuan kerja dengan prinsip-prinsip modernisasi irigasi di Indonesia dan kriteria-kriteria perencanaan yang berlaku di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.
  
1.2.  MAKSUD DAN TUJUAN.
Maksud kegiatan system planning adalah untuk melaksanakan survey, investigasi dan studi/kajian yang diperlukan dalam rangka perencanaan detail system irigasi guna mendukung pelaksanaan modernisasi irigasi.

Tujuan pekerjaan ini untuk memperoleh gambaran kondisi kinerja system irigasi dan masukan dari masyarakat tentang manfaat dan penyempurnaan system yang ditinjau dari aspek ketersediaan air, prasarana irigasi, pengelolaan irigasi, kelembagaan pengelola irigasi (baik dijaringan utama maupun tersier), kondisi sumber daya manusia pengelolanya dan tingkat layanan yang diharapkan oleh petani, serta rekomendasi yang perlu dilakukan dalam rangka pembuatan detail desain nantinya, serta kelengkapan-kelengkapan lainnya guna mendukung modernisasi irigasi.

1.3.  LOKASI KEGIATAN.

Lokasi kegiatan terletak di DI. Wadaslintang yang berlokasi di Kab. Purworejo dan Kab. Kebumen Provinsi Jawa Tengah khususnya pada Sub Sistem Bendung Bedegolan (8.401 Ha).

No comments:

Post a Comment